MEDAN – Kemeriahan pesona budaya serumpun terus berlanjut di jantung Kota Medan. Memasuki hari kedua (Day 2) pelaksanaan Gelar Melayu Serumpun (GMS) ke-9 atau GEMES 2026, Lapangan Merdeka Medan kembali dipadati ribuan pengunjung yang antusias menyaksikan ragam pertunjukan seni dan kompetisi kreatif pada Minggu (28/06/2026).
Rangkaian agenda hari kedua ini sukses memadukan semangat pelestarian tradisi sejak usia dini melalui kompetisi busana adat, sekaligus menjadi ajang pertukaran budaya lintas negara dan daerah yang memukau.
Sejak pukul 13.00 WIB, suasana Lapangan Merdeka telah dihidupkan oleh Bazaar UMKM Ekonomi Kreatif.
Panggung Multikultural Malam Hari: Delegasi Daerah hingga Mancanegara
Memasuki malam hari, setelah dibuka dengan hiburan Dendang Melayu dan jeda Shalat Isya, panggung GEMES 2026 menyajikan pertunjukan seni estafet yang menampilkan kekayaan budaya dari berbagai wilayah nasional hingga delegasi internasional secara berurutan:
* Pertunjukan Seni Delegasi Internasional: Penampilan seni yang sangat dinantikan dari Kontingen China, kolaborasi musik etnik bersama Ngartini Huang, pertunjukan dari Kontingen Kedah-Malaysia, Kontingen Korea Selatan, serta Kontingen Patani-Thailand.
* Pertunjukan Seni Kontingen Daerah (Sumataera Utara & Nusantara): Unjuk kreativitas dari Kabupaten Asahan (Sanggar Embashon Dance Crew), Kota Binjai, Kabupaten Serdang Bedagai, Kota Dumai Barat (Sanggar Sri Bintang), dan Kota DKI Jakarta (Sanggar Selendang Merah).
* Pesona Budaya Serambi Mekah (Aceh): Penampilan memukau dari Aceh Besar / Kampus ISBI, Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Bireuen (Disdikbud Bireuen), Kabupaten Aceh Utara (Sanggar Cut Meutia Meuligo Aceh Utara), Kabupaten Aceh Tamiang (Sanggar Lenggang Muda Comunity), Kota Langsa, hingga Kota Lhokseumawe.
Pertunjukan maraton yang penuh warna dan harmonisasi ini ditutup dengan tertib oleh penampilan Closing by MC pada pukul 22.20 WIB.
Melalui ragam pertunjukan multikultural di hari kedua ini, Gelar Melayu Serumpun 2026 semakin memperkuat perannya sebagai wadah inklusif yang menyatukan perbedaan dalam bingkai seni budaya serumpun yang harmonis.